Kamis, 16 Desember 2010

SCHISTOSOMIASIS JAPONICUM

 PENDAHULUAN
. Di Indonesia penyakit ini ditemukan endemic di dua daerah di Sulawesi Tengah ,yaitu di daerah danau Lindu dan lembah Napu. Di daerah danau Lindu penyakit ini ditemukan pada tahun 1937 dan di lembah Napu pada tahun 1972.

A.    MORFOLOGI
*      Schistosoma japonicum  jantan panjangnya ± 1,5 cm, tubuhnya lebih besar atau gemuk,, memiliki 6-8 buah testis, memiliki batil isap kepala dan batil isap perut, intergumen halus , kanalis ginekoforus.
*      Schistosoma japonicum betina panjangnya ± 1,9 cm, tubuh lebih langsing dari jantan, ovarium di tengah, uterus berisi telur, kelnjar vitelaria di pasterios , terletak dalam kanalis ginekoforus cacing jantan.
*      Telurnya berukuran ± 90 x 70 mikron, memiliki duri kecil , berisi mirasidium.
                  
B.     HOSPES
*      Untuk cacing S.japonicum, hospes perantaranya adalah keong air jenis Oncomelania hupensis lindoensis.
*      Cercaria kemudian meninggalkan keong air, berenang dan mencari hospes definitifnya yaitu manusia dan binatang.

C.     PENYEBAB PENYAKIT
Schistosomiasis japonica adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi salah satu species cacing trematoda darah yang disebut Schistosoma japonicum.

D.    SIKLUS HIDUP
*      Untuk cacing S.japonicum, hospes perantaranya adalah keong air jenis Oncomelania hupensis lindoensis.
*      Miracidium kemudian menembus masuk ke dalam tubuh keong air dan berkembang menjadi sporokista I.kemudian sporokista II, dan terakhir dibentuk cercaria.
*      Cercaria kemudian meninggalkan keong air, berenang dan mencari hospes definitifnya yaitu manusia dan binatang.
*      Bila tidak dapat menemukan hospesnya, maka dalam waktu 48 - 72 jam, cercaria akan mati.
*      Infeksi pada manusia dan binatang terjadi dengan cara cercaria menembus kulit. Dalam tubuh hospes definitif cercaria berubah menjadi schistosomulum, masuk ke dalam pembuluh darah atau saluran limfe, lalu pergi ke jantung ka-nan, paru, jantung kiri dan selanjutnya melalui peredaran darah besar ke vena usus dan menjadi dewasa di dalam venaporta.
*      Cacing Schistosoma Japonicum hidupnya terutama di dalam vena porta dan vena mesenterica superior.                                                                                                               
*      Cacing betina mengeluarkan telur didalam pembuluh darah, dan telur tersebut dapat menembus keluar dari pembuluh darah, masuk ke dalam jaringan sekitarnya.                      
*      Selanjutnya telur dapat masuk ke dalam lumen usus dan ditemukan di dalam tinja. Sebagian telur yang terjerat di dalam jaringan akan menimbulkan kelainan berupa pembentukan pseudoabsces di sekitar telur dan kemudian dibentuk pseudotubercle.
*      Sebagian telur akan mengalir dengan aliran darah dan masuk  ke alat-alat tubuh, terutama hati, dan menimbulkan kelainan di dalam hati atau alat-alat lain
*      Telur yang terdapat di dalam tinja akan menetas di dalam air. Dan keluarlah larva yang disebut miracidium.                                                                                                                        
*      Larva ini bercilia, dapat berenang di dalam air, dan akan mencari hospes perantaranya.

E.     PENCEGAHAN
*      Memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang cara-cara penularan dan cara pemberantasan penyakit ini.
*      Buang air besar dam buang air kecil dijamban yang saniter agar telur cacing tidak mencapai badan-badan air tawar yang mengandung keong sebagai inang antara. Pengawasan terhadap hewan yang terinfeksi S. japonicum perlu dilakukan tetapi biasanya tidak praktis.
*      Memperbaiki cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan membersihkan badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan mengalirkan air.
*      Memberantas tempat perindukan keong dengan moluskisida (biaya yang tersedia mungkin terbatas untuk penggunaan moluskisida ini).
*      Untuk mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh : gunakan sepatu bot karet). Untuk mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan dengan air yang terkontaminsai dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja yaitu kulit yang basah dengan air yang diduga terinfeksi dikeringkan segera dengan handuk. Bisa juga dengan mengoleskan alkohol 70% segera pada kulit untuk membunuh serkaria.
*      Persediaan air minum, air untuk mandi dan mencuci pakaian hendaknya diambil dari sumber yang bebas serkaria atau air yang sudah diberi obat untuk membunuh serkariannya.
*      Obati penderita di daerah endemis dengan praziquantel untuk mencegah penyakit berlanjut dan mengurangi penularan dengan mengurangi pelepasan telur oleh cacing.
*      Para wisatawan yang mengunjungi daerah endemis harus diberitahu akan risiko penularan dan cara pencegahan

F.      DIAGNOSIS
*      Diangnosis ditegagkan dengan menemukan  telur di dalam tinja atau dalam jaringan biopsi seperti biopsi rectum.
*      Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi yang biasa di pakai ialah Circumoval Precipitin  Test (COPT), Indirect Haemagglutination Test(IHT), Complement Fixation Test, Flourescent Antibody Test(FAT), DAN Enzim Linked Immuno Surbent Assay.



GANBAR :

                                                             
                                         GAMBAR TELUR Schistosoma Japonicum


                                                                                                                                
                                                          GAMBAR MIRASIDIUM

                           
                                                                        GAMBAR CERCARIA

                               
                                    GAMBAR CACING DEWASA  Schistosoma Japonicum      
                                          

Penggunaan nafza dalam bidang medik

Kata Napza merupakan gabungan dari Narkotika, Psikotropika,dan Zat Adiktif lainnya.
Nafza ialah bahan atau zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan saraf pusat atau otak sehingga menyebabkan gangguan fisik, psikis,
dan pungsi sosia karena terjaadi kebiasaan ,ketagihan ,(aikasi) serta ketergantungan
(dependensi)terhadap NAFZA.

 Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitikberatkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.

Penggunaan napza biasa di gunakan pada :
1.      Terapi Medik  yaitu untuk menyembuhkan pasien agar benar-benar dapat  sembuh atau  bisa sembuh dari penyakitnya  atau  gagguan yang dia alami.
2.      Fsikoparmaka sama dengan Psikofarmaka / obat psikotropik / Psikotropika yaitu Obat  yang secara luas digunakan oleh dokter untuk  mengatasi gangguan mental dan perilaku . Untuk mengatasi nyeri lambung ,nyeri haid ,nyeri dada atau proses psikomatik lainnya. Dan bekerja secara selektif pada susunan sarap pusat (SSP)
     Macam Psikofarmaka
a.       Anti-psikotik
b.      Anti-depresan
c.       Anti-mania
d.      Anti-anxietas
e.       Anti-insomnia
f.       Anti-obsesifkonfulsif
g.       Anti Panik

*         Anti Psikotik
Ø  Chlorpromazin, Haloperidol ,Trifluoperazin
Ø  Tidak menimbulkan ketergantungan dan jarang disalah gunakan pasien.
*         Anti depresan
Ø  Amitriptilin, Imipramin ,Fluoxetin, Sertralin
Ø  Tidak menimbulkan ketergantungan dan jarang disalah gunakan.

       Efek Psikofarmaka
      Efek Primer
-                Merupakan efek klinis terhadap target
-                Timbul lebih lambat (dibanding efek sekunder)
-                        Digunakan untuk tujuan terapi, disesuaikan dengan gejala yang menjadi sasaran  terapi.
      Efek Sekunder
-    Merupakan efek samping penggunaan psikofarmaka
-    Muncul lebih dahulu dibanding efek primer
-    Digunakan untuk tujuan terapi, disesuaikan dengan gejala yang menjadi sasaran terapi.

  Prinsip Penatalaksanaan Psikofarmaka
Penatalaksanaan psikofarmaka menggunakan prinsip titrasi dosis.
Prinsip Titrasi Dosis ialah Respon terhadap obat psikotropika bersifat individual dan perlu pengaturan secara empiric.
Prinsip Titrasi Dosis
      Pengaturan dosis dilakukan :
·         Dosis awal (dosis anjuran)
·         Dosis efektif (dosis yg mulai berefek supresi gejala sasaran)
·         Dosis optimal (dosis yg mampu mengendalikan gejala sasaran)
·         Dosis pemeliharaan (dosis terkecil yg masih mampu mencegah kambuhnya   gejala)
Bila sampai jangka waktu tertentu dinilai sudah cukup mantap hasil terapinya, dosis diturunkan secara gradual sampai berhenti pemakaian obat.
Asas Psikofarmaka
Dalam penggunaan klinis obat psikotropik selalu mempertimbangkan asas manfaat dan resiko.
3.  Narkotika
a.       Morfin, Petidin
Digunaan untuk mengatasi nyeri yang diderita pasien kanker stadium terminal, nyeri kepala atau nyeri lainnya yang sukar dihentikan dengan analgetika lainya atau nyeri pendarahan.
b.      Kodein sebagai simptom batuk.
4.      Golongan Benzodiazepin
a.       Efek sedasi seperti : Diazepam, Clobazam, Lorazepam , Alprozolam
b.      Efek hipnotik (tidur) seperti: Midazolam, Triazolam , Estazolam ,Nitrazepam.
c.       Obat ini sering disalah gunakan.
5.      Golongan Barbiturat
a.       Fenobarbital untuk menginduksi tidur yang bersifat long acting
b.      Juga dapat disalah gunakan.
6.      Methylphenydate (Ritalin)
a.       Derivat Aphetamin
b.      Stimulansia susunan saraf pusat
c.       Obat pilihan bagi anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
d.      Sering disalah gunakan.