Kamis, 16 Desember 2010

Penggunaan nafza dalam bidang medik

Kata Napza merupakan gabungan dari Narkotika, Psikotropika,dan Zat Adiktif lainnya.
Nafza ialah bahan atau zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan saraf pusat atau otak sehingga menyebabkan gangguan fisik, psikis,
dan pungsi sosia karena terjaadi kebiasaan ,ketagihan ,(aikasi) serta ketergantungan
(dependensi)terhadap NAFZA.

 Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitikberatkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.

Penggunaan napza biasa di gunakan pada :
1.      Terapi Medik  yaitu untuk menyembuhkan pasien agar benar-benar dapat  sembuh atau  bisa sembuh dari penyakitnya  atau  gagguan yang dia alami.
2.      Fsikoparmaka sama dengan Psikofarmaka / obat psikotropik / Psikotropika yaitu Obat  yang secara luas digunakan oleh dokter untuk  mengatasi gangguan mental dan perilaku . Untuk mengatasi nyeri lambung ,nyeri haid ,nyeri dada atau proses psikomatik lainnya. Dan bekerja secara selektif pada susunan sarap pusat (SSP)
     Macam Psikofarmaka
a.       Anti-psikotik
b.      Anti-depresan
c.       Anti-mania
d.      Anti-anxietas
e.       Anti-insomnia
f.       Anti-obsesifkonfulsif
g.       Anti Panik

*         Anti Psikotik
Ø  Chlorpromazin, Haloperidol ,Trifluoperazin
Ø  Tidak menimbulkan ketergantungan dan jarang disalah gunakan pasien.
*         Anti depresan
Ø  Amitriptilin, Imipramin ,Fluoxetin, Sertralin
Ø  Tidak menimbulkan ketergantungan dan jarang disalah gunakan.

       Efek Psikofarmaka
      Efek Primer
-                Merupakan efek klinis terhadap target
-                Timbul lebih lambat (dibanding efek sekunder)
-                        Digunakan untuk tujuan terapi, disesuaikan dengan gejala yang menjadi sasaran  terapi.
      Efek Sekunder
-    Merupakan efek samping penggunaan psikofarmaka
-    Muncul lebih dahulu dibanding efek primer
-    Digunakan untuk tujuan terapi, disesuaikan dengan gejala yang menjadi sasaran terapi.

  Prinsip Penatalaksanaan Psikofarmaka
Penatalaksanaan psikofarmaka menggunakan prinsip titrasi dosis.
Prinsip Titrasi Dosis ialah Respon terhadap obat psikotropika bersifat individual dan perlu pengaturan secara empiric.
Prinsip Titrasi Dosis
      Pengaturan dosis dilakukan :
·         Dosis awal (dosis anjuran)
·         Dosis efektif (dosis yg mulai berefek supresi gejala sasaran)
·         Dosis optimal (dosis yg mampu mengendalikan gejala sasaran)
·         Dosis pemeliharaan (dosis terkecil yg masih mampu mencegah kambuhnya   gejala)
Bila sampai jangka waktu tertentu dinilai sudah cukup mantap hasil terapinya, dosis diturunkan secara gradual sampai berhenti pemakaian obat.
Asas Psikofarmaka
Dalam penggunaan klinis obat psikotropik selalu mempertimbangkan asas manfaat dan resiko.
3.  Narkotika
a.       Morfin, Petidin
Digunaan untuk mengatasi nyeri yang diderita pasien kanker stadium terminal, nyeri kepala atau nyeri lainnya yang sukar dihentikan dengan analgetika lainya atau nyeri pendarahan.
b.      Kodein sebagai simptom batuk.
4.      Golongan Benzodiazepin
a.       Efek sedasi seperti : Diazepam, Clobazam, Lorazepam , Alprozolam
b.      Efek hipnotik (tidur) seperti: Midazolam, Triazolam , Estazolam ,Nitrazepam.
c.       Obat ini sering disalah gunakan.
5.      Golongan Barbiturat
a.       Fenobarbital untuk menginduksi tidur yang bersifat long acting
b.      Juga dapat disalah gunakan.
6.      Methylphenydate (Ritalin)
a.       Derivat Aphetamin
b.      Stimulansia susunan saraf pusat
c.       Obat pilihan bagi anak dengan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas
d.      Sering disalah gunakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar