PENDAHULUAN
. Di Indonesia penyakit ini ditemukan endemic di dua daerah di Sulawesi Tengah ,yaitu di daerah danau Lindu dan lembah Napu. Di daerah danau Lindu penyakit ini ditemukan pada tahun 1937 dan di lembah Napu pada tahun 1972.
A. MORFOLOGI
Schistosoma japonicum jantan panjangnya ± 1,5 cm, tubuhnya lebih besar atau gemuk,, memiliki 6-8 buah testis, memiliki batil isap kepala dan batil isap perut, intergumen halus , kanalis ginekoforus.
Schistosoma japonicum betina panjangnya ± 1,9 cm, tubuh lebih langsing dari jantan, ovarium di tengah, uterus berisi telur, kelnjar vitelaria di pasterios , terletak dalam kanalis ginekoforus cacing jantan.
Telurnya berukuran ± 90 x 70 mikron, memiliki duri kecil , berisi mirasidium.
B. HOSPES
Untuk cacing S.japonicum, hospes perantaranya adalah keong air jenis Oncomelania hupensis lindoensis.
Cercaria kemudian meninggalkan keong air, berenang dan mencari hospes definitifnya yaitu manusia dan binatang.
C. PENYEBAB PENYAKIT
Schistosomiasis japonica adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi salah satu species cacing trematoda darah yang disebut Schistosoma japonicum.
D. SIKLUS HIDUP
Untuk cacing S.japonicum, hospes perantaranya adalah keong air jenis Oncomelania hupensis lindoensis.
Miracidium kemudian menembus masuk ke dalam tubuh keong air dan berkembang menjadi sporokista I.kemudian sporokista II, dan terakhir dibentuk cercaria.
Cercaria kemudian meninggalkan keong air, berenang dan mencari hospes definitifnya yaitu manusia dan binatang.
Bila tidak dapat menemukan hospesnya, maka dalam waktu 48 - 72 jam, cercaria akan mati.
Infeksi pada manusia dan binatang terjadi dengan cara cercaria menembus kulit. Dalam tubuh hospes definitif cercaria berubah menjadi schistosomulum, masuk ke dalam pembuluh darah atau saluran limfe, lalu pergi ke jantung ka-nan, paru, jantung kiri dan selanjutnya melalui peredaran darah besar ke vena usus dan menjadi dewasa di dalam venaporta.
Cacing Schistosoma Japonicum hidupnya terutama di dalam vena porta dan vena mesenterica superior.
Cacing betina mengeluarkan telur didalam pembuluh darah, dan telur tersebut dapat menembus keluar dari pembuluh darah, masuk ke dalam jaringan sekitarnya.
Selanjutnya telur dapat masuk ke dalam lumen usus dan ditemukan di dalam tinja. Sebagian telur yang terjerat di dalam jaringan akan menimbulkan kelainan berupa pembentukan pseudoabsces di sekitar telur dan kemudian dibentuk pseudotubercle.
Sebagian telur akan mengalir dengan aliran darah dan masuk ke alat-alat tubuh, terutama hati, dan menimbulkan kelainan di dalam hati atau alat-alat lain
Telur yang terdapat di dalam tinja akan menetas di dalam air. Dan keluarlah larva yang disebut miracidium.
Larva ini bercilia, dapat berenang di dalam air, dan akan mencari hospes perantaranya.
E. PENCEGAHAN
Memberi penyuluhan kepada masyarakat di daerah endemis tentang cara-cara penularan dan cara pemberantasan penyakit ini.
Buang air besar dam buang air kecil dijamban yang saniter agar telur cacing tidak mencapai badan-badan air tawar yang mengandung keong sebagai inang antara. Pengawasan terhadap hewan yang terinfeksi S. japonicum perlu dilakukan tetapi biasanya tidak praktis.
Memperbaiki cara-cara irigasi dan pertanian; mengurangi habitat keong dengan membersihkan badan-badan air dari vegetasi atau dengan mengeringkan dan mengalirkan air.
Memberantas tempat perindukan keong dengan moluskisida (biaya yang tersedia mungkin terbatas untuk penggunaan moluskisida ini).
Untuk mencegah pemajanan dengan air yang terkontaminasi (contoh : gunakan sepatu bot karet). Untuk mengurangi penetrasi serkaria setelah terpajan dengan air yang terkontaminsai dalam waktu singkat atau secara tidak sengaja yaitu kulit yang basah dengan air yang diduga terinfeksi dikeringkan segera dengan handuk. Bisa juga dengan mengoleskan alkohol 70% segera pada kulit untuk membunuh serkaria.
Persediaan air minum, air untuk mandi dan mencuci pakaian hendaknya diambil dari sumber yang bebas serkaria atau air yang sudah diberi obat untuk membunuh serkariannya.
Obati penderita di daerah endemis dengan praziquantel untuk mencegah penyakit berlanjut dan mengurangi penularan dengan mengurangi pelepasan telur oleh cacing.
Para wisatawan yang mengunjungi daerah endemis harus diberitahu akan risiko penularan dan cara pencegahan
F. DIAGNOSIS
Diangnosis ditegagkan dengan menemukan telur di dalam tinja atau dalam jaringan biopsi seperti biopsi rectum.
Reaksi serologi dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis. Reaksi serologi yang biasa di pakai ialah Circumoval Precipitin Test (COPT), Indirect Haemagglutination Test(IHT), Complement Fixation Test, Flourescent Antibody Test(FAT), DAN Enzim Linked Immuno Surbent Assay.
GANBAR :
GAMBAR TELUR Schistosoma Japonicum
GAMBAR MIRASIDIUM
GAMBAR CERCARIA
GAMBAR CACING DEWASA Schistosoma Japonicum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar